Senin, 31 Agustus 2015

Findings & Recommendations of OECD Report 2015


 Few important findings:

Transport congestion and logistics bottlenecks are preventing better integration with global value chains and inhibiting growth more generally. Investment in power generation and water treatment is also lagging.

While PISA outcomes are in line with Indonesia’s current stage of development, the education system still suffers from serious quality
and access problems.

Key recommendations:

Implementing policies for inclusive and sustainable growth
  • Raise public spending on infrastructure. Focus on transportation and logistics to support industry, as well as natural disaster prevention and water treatment.
  • Avoid protectionist measures that inhibit openness to trade and foreign investment with uncertain development payoff.
  • Increase, and further improve targeting of, spending on poverty alleviation and health measures.
  • Direct more public resources to improving education access and outcomes. Continue regular teacher assessments and professional development, and link teacher salaries more closely to qualifications and performance.
  • Increase financial inclusiveness by further developing branchless banking, drawing lessons from such countries as India, Mexico, the Philippines and Kenya.
  • Tackle labour market informality by reducing rigidities in the formal sector, and by enhancing the effectiveness of the tax-transfer system for poverty alleviation and channelling other social benefits.

Temuan dan rekomendasi OECD adalah sangat gamblang. Dengan jumlah populasi yang besar pada usia produktif saat ini, maka Indonesia amat berpeluang untuk masuk pada kelompok negara ebrpendapatan menengah, lapis atas.

Sumber OECD Report



Sabtu, 29 Agustus 2015

Pulau-Pulau Kecil: Beberapa Kesimpulan

Sejumlah kediatan yang dilakukan oleh SIDI (http://sidi-its.info/index.php/id/) dengan sejumlah mitra, antara lain Kementrian Kelautan danPerikanan, Hochschule Wismar (Jerman) dan SAP USA, pada studi tentang Pulau Maratua menghasilkan beberapa kesimpulan, di antaranya:
 
1. Cruise line biz tidak cocok: rawan thd perusakan lingkungan, dampak ekonomi bagi pulau tsb: sedikit.
2. Marina utk yachts & stasiun riset: promising option
3. Kegiatan militer berpotensi merusak lingkungan. Hankam perlu dg skala kegiatan yg sesuai.
4. Pembatasan alamiah jumlah kunjungan wisata perlu. Melalui kontrol/ Monitoring jumlah homestay dan kunjungan kapal/pswt.
5. Pemberdayaan/ pendidikan SDM: manajemen homestay & kuliner
6. Peningkatan kualitas hidup: transport, pendidikan, kesehatan, energi & air bersih.
7. Teknologi khas utk pulau berpotensi menjadi "produk andalan" RI bagi negara2 kepulauan dunia, misal energi.

Jumat, 28 Agustus 2015

Etiket Korespondensi


 Berikut ini adalah contoh sms dan e-mail yang saya terima:

1.  E-Mail dan SMS asli 2015-08-28
Assalamualaikum pak yoyok saya kxxxx axxx, nrp 441xxxxxx saya mau mohon izin tidak bisa ikut perwalian karena hari minggu saya berangkat ke jepang ikut team sapuangin lomba di student formula japan. Sebelumnya saya minta maaf belum bisa menemui bapak karena saya sibuk ngurus untuk pemberangkatannya. Bagaimana saya perwaliannya bapak?
Sent from my iPhone


 Sebaiknya

 Yth Bp. Yoyok, perkenalkan nama saya Kxxxx Axxx, NRP
441xxxxxx. Saya menyampaikan bahwa saya akan berangkat bersama tim Sapuangin untuk mengikuti lomba di Jepang, hari Minggu yang akan datang. 
Saya mohon maaf, bahwa saya belum dapat menemui bapak sehubungan dengan kesibukan yang luar biasa, pada persiapan keberangkatan. Mengingat perwailan untuk FRS akan dimulai minggu depan, maka saya mohon izin untuk tidak hadir pada kegiatan perwalian tersebut. Mohon nasehat, apa yang harus saya lakukan untuk pengisian FRS dan perwalan tersebut. Salam, Kxxxxx


2. Email 20015-08-28 
Dear Pak Setyo,

Terima kasih banyak untuk bantuan dan kerjasamanya. Tim xxx sangat terkesan dengan penyambutan tim ITS selama mereka berada di Surabaya. Mudah-mudahan kerjasama selanjutnya dengan tim Dow juga akan sukses.

Saya akan sampaikan permintaan Bapak kepada Ibu yyy dan tim xxx. Seharusnya hal itu tidak masalah dan nanti saya dapat kirimkan hasil laporan lengkap hasil studi mereka.

Salam,
xxxx

Sebaiknya:
Dear diganti Yth.
Selebihnya, email ini sangat baik: akurat dan sopan.

-----

Peran Sertifikasi


Dalam banyak kasus, saya tergolong skeptis tentang sertifikasi. Gambar penjual tempe eceran yang bermutu tinggi di atas, saya temui ketika berkendara di Jembatan Bratang menuju Jemursari.

Pandangan di atas langsung menohok apa yang saya alami bersama Pranala Sistem dalam empat tahun terakhir ini. Kami sudah mendaftarkan merk iStow di kantor Kemenhukham. Mungkin sekitar 5-6 tahun yang lalu. Hingga hari saya belum menerima berita perkembangannya.

PERUBAHAN
Sertfikast tempe di atas merupakan kemajuan besar. Saya menangkap ide sertifikasi pada produk di atas adalah sesuatu yang rasional dan canggih. Saya mempunyai kesan kesungguhan, bukan kesan ringan "asal dapat sertifikat". Keyakinan di atas benar atau salah mungkin tidaklah penting.

Yang mendasar saat ini adalah orang mulai memperhatikan mutu. Mutu harus lebih penting daripada jumlah.  Bahwa kesungguhan itu amat berarti. Sehinga mutu layak emndapatkan perhatian yang memadai.

Saatnya saya menunjukkan iStow kepada publik luas. Saatnya iStow ditawarkan kepada galangan kapal, secara gratis. Melalui cara ini, iStow akan lebih cepat untuk disertifikasikan atau dikelaskan. Dan saya yakin, melalui sertifikasi dari biro klasifikasi dan promosi masif akan berdmapak sangat besar bagi kita.

Saya perlu kembali serius menangani sertifikasi ini dengan mendekatkan kontak dengan BV, LR, ClassNK dan tentu saja BKI.